Foto ini diambil ambil ketika perjalanan pulang dari Bandung menuju Jakarta, tepatnya di atas jembatan yang menjadi perbatasan antara Kota Bandung dan Cianjur. Fotonya bagus juga karena diambil pada siang hari dan cuacnya cerah.



Lumayan bikin pegal-pegal juga naik motor dari Bandung ke Jakarta, kalau dihitung-hitung sekitar 5 jam kami mengendarai motor. Berangkat dari Jakarta hari Jumat tanggal 21 November 2008 untuk menghadiri acara Kompetisi Matematika IKAHIMATIKA yang diselenggarakan di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tanggal 22 - 23 November 2008. Karena ketika berangkat lewat puncak banyak kabut maka ketika pulang kami lewat Jonggol dan ini foto yang kami ambil ketika beristrahat di daerah Jonggol

Raden Ajeng Kartini. Walaupun beliau meninggal pada usia cukup muda yaitu 25 tahun pada saat melahirkan anak pertamanya tapi tetap pada tanggal 2 Mei 1964 presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 108 tahun 1964 yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini tanggal 21 April untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini, biasanya siswa/i SD memperingatinya dengan menggunakan pakaian-pakaian tradisional.

Beliau lahir di Jepara pada tanggal 21 April 1879, Ayahnya bernama Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat yang adalah seorang bupati Jepara, Ibunya bernama M.A Ngasirah. Ibunya adalah istri yang pertama tapi bukan istri yang utama karena Ayahnya menikah lagi dengan Raden Ajeng Woerjan (Moerjam) yang adalah anak seorang Raja Madura.

Namanya dikenal sebagai Pahlawan Nasional karena beliau adalah pelopor kebangkitan perempuan pribumi. Perhatiannya tidak semata-mata soal emansipasi wanita, tapi juga masalah umum. Kartini berjuang agar wanita memperoloeh kebebasan otonomi, dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas.

Nama RA. Kartini juga selalu dikaitkan dengan sebuah karya yang berjudul "HABIS GELAP TERBITLAH TERANG". Judul aslinya adalah Door Duisternis tot Licht yang arti harfiahnya "Dari Kegelapan Menuju Cahaya", karya ini adalah kumpulan dari surat-surat Kartini yang ditulisnya kepada teman-temannya di Eropa. Berikut adalah salah satu suratnya yang ditujukan kepada Stella (Estalle Zeehandler), seorang wanita Yahudi anggota pergerakan Feminis di Belanda:

"Sesungguhnya adat sopan santun kami orang Jawa amatlah rumit. Adikku hrs merangkak, bila hendak berlalu dihadapanku. kalau adikku duduk di kursi, saat aku lalu, hrslah ia turun duduk di tanah dengan menundukkan kepala sampai aku tak terlihat lagi. Mereka hanya boleh menegurku dgn bahasa kromo inggil. Tiap kalimat haruslah diakhiri dgn "sembah". Berdiri bulu kuduk, bila kita berada dlm lingkungan keluarga Bumiputera yg ningrat. Bercakap-cakap dgn orang lain yg lebih tinggi derajatnya haruslah perlahan-lahan, jalannya langkah-langkah pendek-pendek, gerakannya lambat-lambat spt siput. Bila berjalan cepat dicaci orang, disebut sbg kuda liar. Peduli apa aku dgn segala tata cara itu.....Segala peraturan itu buatan manusia dan menyiksa diriku saja. Kamu tdk dapat membayangkan bagaimana rumitnya etiket keningratan di dunia Jawa itu....

Tapi sekarang mulai dgn aku, antara kami (kartini, Roekmini dan Kardinah) tdk ada tatacara itu lagi. Perasaan kami sendirilah yg akan menunjukkan atau menentukan sampai batas mana cara Liberal itu boleh dijalankan.

Bagi saya hanya ada dua macam keningratan, keningratan pikiran (fikroh), dan keningratan budi (akhlaq). Tdk ada manusia yg lebih gila dan bodoh menurut persepsi saya daripada melihat org membanggakan asal keturunannya. Apakah berarti sdh beramal sholeh org yg bergelar macam Graaf atau Baron..? Tidaklah dapat dimengerti oleh pikiranku yg picik ini,.."


Sebenarnya apa sih pentingnya Matematika bagi kalian ..? Pertanyaan ini juga pernah saya tuliskan di grup FB-nya HIMATIKA UNAS. Kenapa saya selalu ingin menanyakan hal ini? Karena memang walaupun saat ini sudah banyak berita yang mengatakan bahwa siswa/i atau mahasiswa/i Indonesia sering mendapatkan medali emas di bermacam Kompetisi Matematika baik itu tingkat Nasional maupun Internasional tapi tetap saja masih ada dari mereka yang menganggap kalau Matematika itu tidak penting untuk dipelajari, hanya membuat otak mereka pusing jika sedang mengikuti pelajarannya.

Tulisan seperti ini juga banyak saya temukan di blog-blog yang lain yang mempunyai tema Matematika ataupun ilmu pengetahuan lainnya. Ada yang menerangkan beberapa alasan mengapa Matematika tidak disukai, ada pula yang menjelaskan bagaimana caranya agar Matematika itu bisa disukai dan digemari oleh siswa/i baik itu tingkat SD, SMP, dan SMA, karena ada kabar juga yang pernah saya dengar kalau orang yang menyukai Matematika itu adalah orang yang "aneh".

Jadi menurut kalian siapakah yang aneh, orang yang menyukai Matematika atau orang yang tidak menyukai Matematika ..? Tapi sepertinya tidak mungkin orang bisa bilang kalau mereka itu tidak membutuhkan Matematika karena menurut hemat saya di seluruh aspek kehidupan pasti ada unsur ke-Matematika-annya :-). Contoh kecilnya adalah dalam hal melakukan perhitungan. Dalam hidup ini pasti penuh dengan perhitungan, misal: Berapa waktu yang saya perlukan untuk sampai ke kantor? Berapa danakah yang saya perlukan untuk bisa menyelesaikan gelar S1 saya? Apakah dengan gaji saya sekarang ini bisa membiayai hidup saya selama sebulan dan bisa ditabung untuk keperluan masa depan?

Pertanyaan-pertanyaan di atas adalah sedikit dari banyaknya pertanyaan yang dibutuhkan suatu perhitungan untuk menjawabnya, dan perhitungan itu identik dengan Matematika (walaupun tidak semuanya Matematika itu perhitungan). Jadi kehidupan dan Matematika mempunyai kesamaan yaitu "perlu perhitungan", jadi tidak mungkin jika kita tidak melibatkan Matematika di hidup ini. Sekarang tergantung bagaimana masalah yang kita hadapi sekarang, apakah dengan menggunakan rumus-rumus sederhana seperti penjumlahan, pengurangan, pembagian dan pengurangan saja sudah bisa terselesaikan atau perlu operasi Matematika yang lebih rumit lagi seperti Logaritma, Trigonometri, bahkan Integral dan Differensial, hehe :)